Keluhan yang paling sering saya terima bunyinya begini: "handheld-nya lemot, kadang putus." Dulu saya langsung memeriksa access point, mengganti channel, lalu berharap masalahnya hilang. Kadang hilang, seminggu kemudian muncul lagi.
Setelah beberapa kali kejadian, polanya kelihatan. Yang putus selalu perangkat yang sama, di jam yang sama, saat picking sedang ramai. Itu bukan ciri sinyal lemah. Itu ciri dua perangkat memakai satu alamat IP.
Sebagian handheld dipasang IP statis karena pernah dibutuhkan agar alamatnya tetap. Masalahnya, alamat itu berada di dalam rentang yang masih dibagikan DHCP. Selama perangkat statisnya menyala lebih dulu, tidak ada yang terjadi. Begitu ia mati, alamatnya dipinjamkan ke perangkat lain, dan saat ia menyala lagi, dua-duanya merasa berhak.
Gejalanya tidak pernah berupa "tidak bisa konek". Yang terjadi justru koneksi yang hidup mati, ping yang kadang tembus kadang hilang, dan aplikasi yang gagal mengirim data di tengah proses.
Pemeriksaannya saya balik urutannya:
Langkah ketiga yang paling menolong. Dengan lease statis, alamat tetap sama, tapi router yang memegang daftarnya, bukan catatan manual yang tersebar di kepala beberapa orang.
Kalau keluhannya "kadang putus" dan bukan "tidak bisa konek", saya berhenti menebak di sisi sinyal. Bentrok alamat jauh lebih sering, dan pembuktiannya cuma butuh satu tabel di router. Sisa waktunya bisa dipakai untuk hal yang benar-benar perlu diperbaiki.